Ardiansyah Mahamel

Kalau kamu bukan anak raja, dan bukan anak ulama besar, maka menulislah (imam ghazali).

Manusia Penuh Dosa

IMG_20140412_203253Setiap manusia pasti melakukan dosa dan kesalahan; kecil besar, banyak atau sedikit, sengaja atau pun tidak. Menjadi lumrah setiap manusia melakukannya. Rasulullah bersabda:

“Setiap anak Adam pernah melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang-orang yang bertaubat.” (HR. Ibnu Majah, no.4251)

Tetapi sejauh mana manusia mau kembali bertaubat itulah yang menjadi persoalan. Syaitan tidak akan pernah berputus asa dari menghasut manusia. Kerana tugas mereka adalah menggoda manusia supaya melakukan maksiat dan terjun bersama-sama mereka ke dalam azab api neraka. Malah mereka sendiri berazam dan bertekad mau menyesatkan seluruh umat manusia hingga tiba hari kiamat. Hanya manusia yang sadar dan beriman saja yang akan kembali menginsafi diri setelah melakukan kesalahan dan dosa. Karena mereka sadar betul bahwa syaitan adlah musuh utama yang nyata bagi mereka.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (Surah Al-Baqarah: 208)

Manusia beriman mempunyai ciri-ciri yang jelas apabila melakukan dosa. Yaitu mereka yang beriman apabila melakukan dosa, akan segera bertaubat dan segera menginsafi diri. Waktu malam dijadikan waktu terbaik untuk mengingati kembali kesalahan yang dilakukan. Solat taubat dan doa meminta keampunan Allah menjadi rutin. Air mata yang dikurniakan kepadanya dicurahkan sebanyak mungkin semata-mata untuk meraih ridha dan keampunan dari-Nya.

Pada siang hari, rezeki yang sedikit digunakan untuk bersedekah. Masa yang lapang digunakan untuk membantu mereka yang memerlukan. Inilah ciri-ciri yang tidak terdapat pada manusia biasa. Tidak terdapat pada kebanyakan manusia. Hanya manusia terpilih yang mampu melakukan semua ini. Kerana pada pandangan mereka, dosa kecil itu besar. Dan dosa besar itu sangat besar.

Manusia penuh dengan dosa. Setiap manusia pasti pernah melakukan dosa dan pahala. Diantara dosa dan pahala, manusia sukar membuat perbandingan dan perhitungan. Mana satu yang dilakukan sedikit dan mana satu yang banyak. Karena itulah alangkah baiknya untuk kita bermuhasabah dosa terlebih dahulu dibanding bermuhasabah pahala. Karena hanya dengan muhasabah dosa, hati kita akan insaf sehingga merasakan bahwa timbangan dosa kita adalah lebih berat dari timbangan pahala yang dilakukan. Kemudian timbul perasaan bahwa sebenarnya kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengurangkan atau meringankan timbangan dosa selama ini. 

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. an-Nur: 31)

 

April 9, 2014 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: