Ardiansyah Mahamel

Kalau kamu bukan anak raja, dan bukan anak ulama besar, maka menulislah (imam ghazali).

Kita Hidup Untuk Apa?

bersyukur-kepada-allah

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS Al Baqarah:152)

Assalamualaikum…

Alhamdulillahirabbil alamin, puji dan syukur kepada Allah SWT yang sampai detik ini masih memberikan karunia hidup kepada kita semua sehingga kita masih dapat melihat besarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita di dunia ini. Ketika kita masih dapat membuka mata untuk bangun dari tidur di pagi hari, rasa syukur bertambah ketika kita dapat bangun di tengah lelapnya tidur di sepertiga malam yang gelap dan meneteskan air mata merenungkan kembali kehidupan yang telah dijalani sejak lahir hingga hari ini dan menyadari bahwa betapa kotornya diri ini akan dosa-dosa yang pernah diperbuat. Bersyukur ketika menyadari bahwa nikmat sehat masih berada dalam diri sehingga aktivitas dan kegiatan dapat dijalani tanpa rasa sulit dan beban di dalam tubuh dan di dalam hati, bersyukur menyadari akan nikmat sehat yang Allah berikan sehingga kita dapat beribadah dengan penuh kenikmatan yang tak akan pernah dapat tergantikan ketika tubuh ini lemah tak berdaya karena sakit. Bersyukur bahwa mata ini masih dapat melihat, telinga masih dapat mendengar, hidung masih dapat bernapas, mulut masih dapat berbicara, tangan masih dapat menggenggam, kaki masih dapat berjalan, lagi dan terus lagi betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita manusia sehingga Allah berfirman:

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah (yang dilimpahkan-Nya kepadamu), niscaya kamu tidak akan dapat menghitungnya, sungguh Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nahl:18)

Bayangkan apabila tiba-tiba mata ini tidak dapat melihat, telinga tidak dapat mendengar, dan mulut tidak dapat berbicara. Lebih jelasnya lagi coba bayangkan apabila nikmat buang air kecil atau buang air besar Allah cabut dari kita. Maka barulah kita sadar akan nikmat yang telah Allah berikan selama ini. Sekali lagi, coba bayangkan ketika tiba-tiba kita mati. Apakah kita sudah siap untuk dihisab di hari kiamat nanti? Kongkritnya, apakah kita sudah siap untuk mati? Karena pada akhirnya semua yang bernyawa akan mati. Karena mati adalah hal yang pasti, lebih pasti dari terbitnya matahari di esok hari. Orang-orang yang kita sayangi di dalam hidup akan mati dan kita sendiri pun juga akan mati. Dari sekian banyak kita saksikan kerabat atau orang yang dikubur karena mati, kita pasti sadar betul bahwa akan tiba giliran kita untuk dikubur juga nanti. Allah SWT berfirman dalam Quran Surat Al Imran ayat 185:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Kita umat Islam pasti tahu betul bahwa ada siksa kubur ketika kita di kubur nanti, kita juga pasti tahu akan adanya hari akhir, hari penghisaban, hari pembalasan, serta neraka dan surga; ya karena ini merupakan salah satu dari rukun iman yang menjadi dasar keimanan kita sebagai umat Islam. Hal-hal yang saya sebut di atas tadi adalah perkara-perkara yang pasti akan  terjadi. Lalu bagaimana kita harus menyiapkan kematian kita? Sebelum kita mencari jawaban bagaimana kita menyiapkan kematian kita, kita harus paham betul untuk apa kita diciptakan. Apa  tujuan kita hidup di dunia ini. Bukanlah tujuan yang sesuai dengan kehendak hati kita, tapi tujuan yang dikehendaki oleh saat Allah SWT; Tuhan yang menciptakan kita. Dia yang telah memberikan kehidupan kepada kita. Maka atas apa-apa yang kita lakukan di muka bumi haruslah sesuai dengan keinginan Sang Pencipta. Rutinitas hidup yang kita jalani terkadang menjebak kita yang membuat kita berfikir bahwa hidup ini ibarat putaran atau siklus tiada henti. Seakan-akan hidup ini hanya satu kesamaan dengan yang lain. Maksudnya ketika lahir, kemudian kita sekolah, lalu kerja, terus menikah, punya anak, tua, lalu kemudian mati. Setidaknya seperti itu lah yang kita jalani. Sulit sekali bagi kita jika hanya mengandalkan logika untuk mencari jawaban apa sebenarnya inti kehidupan kita. Namun jawaban yang tepat dapat kita temukan jika manusia menyadari siapa yang menciptakan kehidupan dunia dan seisinya.

“Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariat:56)

Secara gamblang telah dijelaskan Allah Swt bahwa tujuan Dia menghidupkan kita di dunia ini adalah untuk menyembah alias beribadah kepada Nya. Bukan sekedar untuk hidup kemudian menghabiskan jatah umur lalu mati.

Lebih jauh Allah Swt mengingatkan pula dalam Surat Al-Mukminun ayat 115:

“Apakah kau (manusia) menyangka bahwa Aku ciptakan kamu dengan main-main dan (kau kira) kamu tidak akan dikembalikan kepada Ku?”

Dari dua ayat di atas, dengan mudah kita bisa mendapat pencerahan bahwa eksistensi kita di dunia adalah untuk melaksanakan ibadah/menyembah kepada Allah Swt. Tentu saja semua yang berlaku bagi kita selama ini bukan sesuatu yang tidak ada artinya. Sekecil apapun perbuatan itu. Melainkan semua terjadi atas kehendak yang telah Dia tetapkan dalam hidup kita. Allah telah memberikan tuntunan sisanya kitalah yang menentukan pilihan. Namun yang perlu kembali kita sadari, kekuatan dalam memilih jalan hidup itu pun datangnya dari Allah, bukan semata-mata dari kekuatan kita. Kadang kita sering mendengar orang berkata, “Ini kan hidup gue, jadi suka-suka gue dong mau buat apa“. Hmm, semoga kita bukan termasuk orang yang pernah atau sering berpikir seperti itu.

Maka, ketika kita paham tujuan kita diciptakan dan hidup di dunia ini, maka, insya Allah kita dapat mengaplikasikan rasa syukur kita kepada Allah. Bersyukur bukan hanya sekedar melalui kata-kata, melainkan secara garis besar wujud nyata dari dari syukur adalah dengan menggunakan hati, lidah, dan seluruh anggota badan. Bahwa Allah adalah Maha Pencipta segala yang ada di dunia ini sehingganya satu buah bola mata pun tidak akan pernah dapat manusia ciptakan walau dengan tekhnologi tingkat apa pun. Bahwa Allah adalah Maha Memiliki segala yang ada di dunia ini sehingga segala sesuatu yang ada akan kembali kepada-Nya. Allah lah yang memiliki diri kita, bukan kita sendiri. Badan dan jiwa ini hanya pinjaman. Selayaknya barang pinjaman, suatu saat sang empunya atau tuannya akan meminta kembali barang yang dipinjamkan, atau tak perlu tunggu diminta, yang meminjamlah yang sepatutnya mengembalikan barang pinjaman dengan berterimakasih. Lalu, apakah layak barang pinjaman ini kita gunakan dengan seenaknya ketika yang punya sudah mengingatkan “Eh, barang gue jangan rusak ya“, “Barang gue jangan hilang ya“, “Jangan ini ya… Jangan itu ya“. Maka ketika kita melanggar peringatan-peringatan itu, pasti yang punya barang akan marah.

Teman-teman, (dan juga saya berbicara kepada diri saya sendiri), begitulah ibaratnya kita di dunia ini. Ketika Allah telah menberikan tuntunan-Nya kepada kita umat manusia melalui kitab yang paling mulia (Al Quran) dan pengaplikasiannya melalui sunnah-sunnah Rasulullah SAW (Hadits), maka berpegang kepada dua hal itu bukan hanya menyelamatkan hidup kita di dunia, tapi juga menyiapkan bekal mati dan kehidupan di akhirat nanti. Bukan buku-buku komik yang dulu atau sampai sekarang masih kita baca, bukan buku-buku pelajaran yang selama ini kita pelajari di bangku sekolah atau kuliah. Ya betul. Saya harus berkata begini karena buku-buku itu mungkin akan menjamin hidup kita atau memberi kepuasan kepada kita di dunia, tapi belum tentu menjamin hidup kita di akhirat. Sadarlah bahwa hidup ini bukan cuma di dunia ini saja. Jika ada orang yang bilang “hidup ini cuma satu kali“, memang betul, hidup di muka bumi ini hanya satu kali dan bahkan sangat-sangat singkat sehingga kata-kata “nikmatilah hidup” terlanjur menempel dalam otak kita dan membuat kita terkadang bertindak sesuka hati. Tapi sesungguhnya, ada lagi kehidupan lain yang akan kita jalani yang lebih kekal abadi selama-lama-lama-lamanya sampai Allah kehendaki. Ya, kehidupan di akhirat nanti.

Jadi, mari kita selalu banyak-banyak berterima kasih kepada Allah atas segala sesuatu yang telah Allah beri, ridho atas segala ketetapan yang terjadi dan ujian yang kita alami, karena kita hidup di dunia ini tidak akan pernah lepas dari ujian. Berbagai ujian dan persoalan hidup akan selalu kita alami. Allah berfirman dalam Al Quran Surat Al-Ankabut ayat 2-3:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

“Sesungguhnya Aku akan menguji setiap hamba-hamba-Ku untuk mengetahui siapa di antara mereka yang paling beriman kepada-Ku.” Jadi, ketika masalah atau ujian datang kepada kita, insya Allah kita ada kekuatan untuk ikhlas sepenuh hati serta bertawakal dan yakin bahwa pasti Allah akan menyelesaikannya.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS (Al-‘Asyr:5-8)

Banyak-banyak berdoa baik dalam ibadah atau pun di luar ibadah, dan memohon ampun atas dosa-dosa yang selama ini telah diperbuat. Karena sesungguhnya pertama kali masalah atau ujian itu datang tak lain adalah karena perbuatan atau amalan kita dan kedua memang karena Allah ingin sekedar menguji kita. Namun sepatutnya, menyadari diri penuh dengan perbuatan dosa adalah lebih baik daripada merasa diri sudah cukup akan keimanan dan ketakwaan. Maka, mari kita perbanyak evaluasi, introspeksi, dan menimbang diri apakah amalan baik kita sudah lebih banyak dari amalan buruk kita. Apakah selama ini kita sudah hidup sesuai dengan perintah Allah. Apakah segala larangan-larangan-Nya telah kita jauhi. Lebih jauh lagi apakah kehidupan kita sehari-hari sudah sesuai seperti yang dicontokan oleh Rasulullah SAW, karena dalam diri beliau ada suri tauladan yang apabila kita ikuti dan teladani, maka kita bukan hanya akan berjaya hidup di dunia ini, tapi juga di kehidupan akhirat nanti. Ya, kehidupan akhirat. Yang mana merupakan ladang atau tempat pembalasan atas amalan-amalan perbuatan daripada kita hidup di muka bumi ini. Tempat di mana tidak ada lagi kesusahan-kesusahan yang akan kita alami seperti yang pernah kita alami di dunia, tempat di mana kita tak perlu bekerja untuk mendapatkan harta, tempat di mana kita tak perlu mencari uang untuk dapat membeli makanan, minuman, membeli pakaian, rumah, mobil, semuanya. Tempat di mana kita tak perlu lagi bersusah payah membuat atau mencari sesuatu karena hanya dengan menginginkan sesuatu sedetik saja, maka semua akan disediakan oleh Allah SWT untuk kita. Tempat di mana tak ada si miskin dan si kaya. Tempat di mana tidak ada perburuhan, perbudakan, penyiksaan, dan segala kejahatan yang pernah ada di muka bumi. Tempat di mana tidak ada tua, karena semua dari setiap kita akan menjadi muda. Tempat di mana mereka yang dulu di dunia berpisah karena agama akan dikumpulkan menjadi satu dengan penuh bahagia. Tempat di mana akan disediakan banyak bidadari-bidadari perawan untuk para pria. Tempat di mana istana-istana yang besarnya melebihi matahari akan terhampar luas disediakan untuk manusia, bejana-bejana dari emas akan disediakan yang ukuran disesuaikan dengan kehendak kita, pelayan-pelayan surga akan bertaburan seperti butiran mutiara yang berkilauan, tak akan terdengar oleh kita perkara-perkara atau ucapan-ucapan yang sia-sia karena semua hanya akan berdzikir dan berbicara tentang kebesaran Allah SWT, dan nikmat yang paling besar adalah, melihat wajah Allah SWT.

“Fabiayyi Aalaaa irobbikumaa Tukadzdzibaan ; Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman)

Semoga muhasabah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin ya rabbal alamin.

April 5, 2014 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: