Ardiansyah Mahamel

Kalau kamu bukan anak raja, dan bukan anak ulama besar, maka menulislah (imam ghazali).

Wisata Krui, Lampung Barat, Indonesia

Cerita pengalaman di Lampung Barat ini sebenarnya sudah pernah saya posting melalui akun twitter saya (@ardianmahamel) tepatnya pada tanggal 23 Mei 2012 lalu. Tapi saya pikir alangkah baik bila saya menyatukannya kembali menjadi satu kisah yang tertulis di blog pribadi saya ini, mengingat komentar salah seorang teman yang mengingatkan saya bahwa apabila ingin menulis cerita panjang lebih baik buat di blog dari pada di twitter, bacanya repot! Hahaha. Baiklah. So, here it is, i wrote this special writing to all of you, kisah perjalanan singkat saya 18-20 Mei 2012 bersama ke-4 sahabat di Obyek Wisata Krui Lampung Barat, Provinsi Lampung, Indonesia.

Berawal dari rencana yang sudah sejak lama ingin direalisasikan, saya, @topan_a, @kiranaCynthia, dan @FebiFebrian berkesempatan untuk melakukan perjalanan wisata ke Pantai Tanjung Setia di provinsi Lampung, ditemani oleh @Wdmoekchin yang juga rekan saya dari ajang pemilihan Muli Mekhanai Lampung (semacam pemilihan bujang gadis daerah). Sedikit perkenalan tentang pantai Tanjung Setia, pantai ini terletak di Desa Tanjung Setia, Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung, berjarak sekitar 52 km dari Liwa (ibu kota kabupaten Lampung Barat) ke arah Krui atau sejauh 273 km dari Kota Bandar Lampung.

Banyak kegiatan wisata yang bisa dilakukan seperti berenang, diving, surfing, piknik, mengumpulkan kerang, berperahu, atau bersepeda menyelusuri bibir pantai. Pantai ini menghadap langsung ke Samudera Hindia dan selama bulan tertentu yaitu April dan Oktober, ketinggian ombaknya bisa mencapai  2-4 meter dengan panjang sekitar 200 m, tak heran ketika di sana akan banyak kita jumpai wisatawan mancanegara alias bule dari berbagai negara yang datang liburan ke pantai ini. Kalau kata orang-orang di sini, Tanjung Setia itu Bali-nya Lampung, ombaknya berskala internasional dan dianggap surga bagi pada surfing lover. Walaupun saya dan teman-teman gak ada yang bisa berselancar, hahaha, but we were totaly excited! Berbagai fasilitas dan cottage pun disediakan khusus baik untuk para surfer maupun pengunjung biasa.

Jumat 18 Mei 2012 pukul 8.00 pagi WIB, saya dan teman-teman berkumpul di Stasiun Raja Basa Bandar Lampung pukul 7.00 dan segera membeli tiket Bus Krui Putra, yaitu bus khusus yang mengangkut penumpang jurusan Bandar Lampung-Krui seharga  Rp 32.500 per penumpang. Setelah melalui jalan berkelok mandaki gunung lewati lembah dengan pemandangan yang luar biasa indah, gak kerasa sudah 7 jam perjalanan kami lewati di bus dan akhirnya kami pun tiba pukul 15.00 sore. Di sana, kami singgah sejenak di kediaman paman Wd untuk rehat berganti pakaian dan segera bergegas ke pantai Tanjung Setia menggunakan 2 motor pinjaman paman. Dengan jarak tak begitu jauh dari kediaman, kami pun tiba di lokasi pantai dan memasuki gerbang Tanjung Setia yang ada di pintu masuk.

Kami pun menemukan jawaban atas penantian kami terutama saya selama ini. Tak heran mengapa banyak orang terhipnotis keindahannya. Di pantai ini, dapat disaksikan gulungan ombak nan indah yang panjang dan tidak terputus yang memberi sensasi luar biasa bagi siapa pun yang melihat. Cottege dan fasilitas surfing yang tersedia juga membuat Tanjung Setia memiliki kredibilitas internasional yang menjadi kebanggan provinsi Lampung sehingga wajar apabila daerah tujuan wisata ini menjadi salah satu Kawasan Wisata Unggulan (KWU) dari program pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung.

Setelah 2 jam menikmati pantai Tanjung setia, karena hari sudah magrib, kami memutuskan untuk kembali ke rumah paman dan segera berangkat ke penginapan yang akan kami singgahi yang terletak di kota Krui dengan menumpang mobil milik seorang warga (teman paman) yang berbaik hati memberikan tumpangan kepada kami. 30 menit kemudian, akhirnya kami tiba di hotel Janitra, penginapan sederhana di kota Krui. Malam itu kami memutuskan untuk mencari makan di luar. Saat berjalan kaki dalam perjalanan mencari makan, kami mampir ke pantai Labuhan Jukung, sebuah tempat yang banyak dikatakan keramat oleh warga setempat. Sebenarnya kami tidak sengaja ingin ke sana, awal niat kami adalah makan bakso ikan yang lokasinya tepat di depan gerbang pantai itu. Tapi ternyata, sang pedagang bakso ikan tutup alias “gak dagang kalau hari jumat”, kata warga yang kebetulan ada di lokasi. Akhirnya karena sudah kepalang tanggung, kami pun penasaran dan coba masuk ke pantai Labuhan Jukung melalui gerbang besar yang ada di pintu masuk.

Seperti memasuki dunia lain. itulah perasaan yang saya rasa saat masuk pantai itu, mungkin karena malam hari, dan tidak ada penerangan cahaya sama sekali. Kami belum berkomentar dan masih bersenda gurau sembari berjalan pelan-pelan menuju bibir pantai. Lalu kami duduk di bebatuan yang ada di pinggiran pantai dan mencoba untuk memandangi ombak laut dan menikmati angin malam dengan hanya menggunakan lampu senter dari handphone dan mengandalkan cahaya bulan malam itu. Cukup romantis. Tapi kesan sepi dan gelap lebih mendominasi saat itu. Seperti tidak ada manusia satu pun di sana. Tepat di lokasi kami duduk, terdapat tanda peringatan “Dilarang Berenang dan Bermain di Pinggir Pantai”. Saya sempat terheran dalam hati, bertanya tentang keberadaan tanda peringatan itu. Jarang saya temui di lokasi pantai sebuah obyek wisata, karena pasti pantainya untuk dinikmati sekedar berenang atau bermain pasir. Belum ada 5 menit kami duduk di situ, saya memutuskan untuk segera beranjak. “Udah yuk”, kata saya pada teman-teman yang lain. Saat itu, logika dan perasaan seperti tidak beraturan. Tanpa bertanya pikiran dan perasaan masing-masing, kami langsung bangun dan pergi, dan melanjutkan mencari makan malam karena perut sudah cukup lapar.

Singkat cerita, kami kembali ke penginapan sekitar pukul 21.30 malam, berjalan kaki selama 20 menit dari lokasi makan ke penginapan. Tiba di kamar, kami beristirahat sambil menonton tv dan menikmati cemilan. Kebiasaan “ngobrol malam” pun kami lakukan. Saat itu, kami mendengarkan cerita Wd tentang masyarakat Lampung Barat, khususnya cerita-c erita dari daerah kelahirannya ini. Oya, saya belum bilang, kalau Wd asli berasal dari Krui, Lampung Barat. Keluarganya lahir dan besar di sini, kemudian mereka hijrah ke Bandar Lampung dan mengadu nasib di sana. Merantau kalau kata istilah adat orang Padang. Hehe. Dia bercerita bahwa pantai Labuhan Jukung yang tadi kami datangi memang punya banyak kisah dan kejadian. Dia cerita bahwa pada tahun 1987, pernah ada anggota TNI meninggal tenggelam, dan tahun 90-an juga pernah ada mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang tenggelam dan hanyut di sana, serta cerita lain seperti kisah Goa Matu yang ada di daerah utara Krui yang tidak bisa saya share di sini, silahkan googling sendiri dengan keyword nama goa tesebut, hehe. Obrolan malam ini berhasil menegangkan suasana yang semula hangat menjadi dingin, terlebih kondisi penginapan tersebut sangat mendukung aura misterius semakin muncul, banyak lukisan foto manusia yang sepertinya dari zaman kolonial belanda terpampang di dinding ruang tengah penginapan itu. Haha, benar-benar edan! Singkat cerita, malam itu kami tutup dengan shalat Isha berjamaah memohon keselamatan dan perlindungan Allah SWT. Sekitar pukul 00.00 malam kami baru tidur dan beristirahat.

Sabtu, 19 Mei 2012, kami bangun pukul 5.00 pagi dan bersiap-siap menuju destinasi lain yang akan kami singgahi, yaitu Pulau Pisang. This is one of the best place in Krui! Check out pukul 6.30 pagi kami berangkat menuju dermaga menggunakan ojek dan tiba sekitar pukul 7.00 dan menggunakan perahu kapal kecil menyebrang sekitar 20 menit dari dermaga yang terletak di bagian utara kota Krui tersebut. Pasir putih dan air laut biru nan jernih menyambut kami ketika tiba di Pulau Pisang. Sungguh luar biasa! Di Pulau itu, kami mampir sebentar ke kediaman “dongah” (kakak lelaki nomor dua dalam bahasa Lampung), yaitu kerabat keluarga Wd yang ada di sana, untuk menitip beberapa barang bawaan.

Dari situ kami langsung menelusuri hutan kecil yang ada di pulau melalui jalan setapak yang bisa dijadikan jogging/bike track, benar-benar pulau yang potensial, seandainya fasilitas di sini lebih lengkap, pasti akan lebih ramai pengunjungnya. Fasilitas di Pulau Pisang memang tidak selengkap Tanjung Setia, malah tidak ada cottege, mungkin masyarakat masih ingin menjaga kelestarian dari pulaunya. That’s why kondisi pantai di sini masih cukup bersih jauh dari polusi. Selain itu di depan rumah warga dapat kita jumpai tanaman cengkeh yang dijemur yang konon katanya dahulu pada zaman belanda pernah ada pabrik cengkeh terbesar di Lampung di pulau ini. Sungguh, kesan history di pulau ini sangat tinggi. Di batu Guri, lokasi yang kata penduduk setempat pernah ditemukan binatang gurita, terdapat bangkai kapal tanker berusia puluhan tahun yang sudah mengerat dan kecoklatan namun berdiri tegap di pinggir bebatuan pantai. Sekali lagi, bila ingin didalami, seolah kita akan menemukan seribu satu kisah sejarah yang ada di Pulau Pisang ini. Mengapa dinamakan Pisang pun, kami masih bertanya-tanya, padahal notabene di sini lebih banyak ditemui pohon kelapa dari pada pohon pisang. J

Setengah hari di pulau ini kami habiskan dengan menikmati keindahan dan keeksotisan pantai yang sungguh luar biasa. Dari mulai berjalan di jalan setapaknya, menikmati pasir putih pantai, menyelam melihat batu karang, atau sekedar foto dengan background gulungan ombak yang menawan. Sungguh Tuhan Maha Besar pencipta segala yang ada di alam semesta ini.

Singkat cerita, pukul  13.00 kami kembali ke kediaman dongah, mandi bilas dan bersih-bersih, lalu makan siang yang disiapkan berupa ikan-ikan segar yang diolah dan dimasak menjadi beragam masakan. Alhamdulillah. J

Selesai makan kami segera bersiap-siap untuk pulang kembali menyebrang menggunakan perahu yang pagi tadi kami gunakan. Namun ternyata kami terlambat naik perahu yang baru saja berangkat dengan penumpang yang pagi tadi bersama kami: kami ditinggal! Haha.

Akhirnya, kami terpaksa menunggu hingga pukul 16.00 sore untuk dijemput kembali oleh perahu yang sama. Akhirnya, kami tiba di dermaga awal sekitar pukul 16.40 sore, dan tanpa sengaja menumpang kendaraan tossa milih warga yang kebetulan lewat tepat saat kami baru merapat. Kendaraan tossa itu sejenis gerobak beratap yang dibawa oleh motor besar mirip kereta kencana. Atas pertolongan warga yang membantu memberhentikan pemilik tossa tersebut, akhirnya kami pun naik, mengingat hari sudah petang dan tidak ada kendaraan umum yang akan lewat lagi. Dalam perjalanan kembali ke arah selatan menuju kediaman paman Wd di daerah Bumi Agung, sempat diguyur oleh hujan yang lumayan deras. Sungguh, pengalaman yang lengkap akan rasa syukur dan petualangan.

Kami pun tiba di rumah paman sekitar pukul 19.00, yang disambut dengan listrik padam. Sebenarnya, listrik padam ini bukan sekali terjadi, tapi sejak awal kami menginap di hotel janitra, kami sudah mengalami mati lampu sebanyak dua kali. Kata paman, ini sudah biasa terjadi di Krui, karena pasokan listrik yang terbatas. Kami beristirahat duduk sejenak di ruang tamu mengobrol dalam kegelapan sembari menunggu makan malam yang sekali lagi disiapkan bibi Wd. Lagi-lagi, tak hentinya kami mengucap syukur Alhamdulillah.

“Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman)

Kami menutup malam dengan mengistirahatkan raga dan melepas lelah seharian menikmati keindahan karya sang pencipta yang tiada tara.

Minggu , 20 Mei 2012, setelah sarapan, kami bersiap-siap kembali ke Bandar Lampung menaiki bus yang sama yaitu Krui Putra. Tepat pukul 10.00 kami pun pamit dengan paman dan bibi. Tiba di Bandar Lampung sekitar pukul 18.00, kami kembali ke rumah masing-masing.

Akhirnya, itulah perjalanan singkat penuh makna dan pengalaman saya dan sahabat selama 3 hari di Krui, Lampung Barat. Terima kasih terhaturkan kepada kerabat, paman, bibi, dongah, dan seluruh warga yang ada di Tanjung Setia, Krui, dan Pulau Pisang. Terima kasih pula saya pribadi sampaikan kepada sahabat-sahabat yang setia menemani setiap perjalanan, Topan, Kirana, febi, dan juga Wd yang telah mendampingi dan berusaha memberikan yang terbaik buat pengalaman wisata kali ini. Sungguh, petualangan yang sangat berkesan. Awesome! Terima kasih kepada Allah SWT atas perlindungan dan pertolongan yang telah diberikan sehingga perjalanan ini terasa sangat mudah dalam setiap kesulitan yang dirasa. Hanya pada-Mu hamba bersuci, berserah diri, dan memohon keselamatan atas segala hal yang terjadi.

Perjalanan ini mungkin bukan satu-satunya yang pernah terjadi, namun atas segala pengalaman dan pembelajaran yang saya dapatkan, rasa syukur selalu terpanjatkan. Dan atas segala rasa marah, takut, tangis, tawa dan bahagia, serta kebersamaan dan kesenangan yang tercipta, saya ingin berbagi pengalaman ini kepada seluruh teman-teman yang membaca tulisan saya, menceritakan apa yang saya rasa, dan apa yang tertinggal.

IMG_0125

IMG_0204

IMG_0206

IMG_0240

IMG_0234

IMG_0256

IMG_0386

December 17, 2012 - Posted by | Uncategorized | , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: