Ardiansyah Mahamel

Kalau kamu bukan anak raja, dan bukan anak ulama besar, maka menulislah (imam ghazali).

Sebuah Perjalanan

Suatu ketika ada seorang pemuda berhenti dari langkah yang sedang diayunkannya. Sejenak ia berpikir, ke mana Ia akan memilih di antara persimpangan jalan yang ada di hadapannya. Ia melihat ada banyak sekali pilihan jalan berpetunjuk dan tak berpetunjuk. Satu yang Ia tahu hanya, semua jalan tersebut akan mengantarkannya pada satu tujuan yang bertelaga sepanjang jalan dan bermuara di ujung jalan tersebut. Namun Ia terdiam, sejenak bertanya, ada apa di ujung jalan ini, ada apa sepanjang jalan ini, dan apa akhir dari jalan ini. Ia ragu untuk menduga; Ia tak punya kuasa untuk meramal. Ia bingung untuk memilih; atau mungkin takut untuk memilih. Ia kembali terdiam, kemudian mengingat cita-cita dan impiannya yang sejak dulu masih tergantung hingga sekarang. Ia mengingat kembali harapan yang selama ini diukir di dalam hati mau pun di atas kertas. Ia memiliki banyak asa dan keinginan yang sudah atau masih akan diperjuangkan. Namun sejenak ada hal yang menyadarkannya ketika Ia sedang dalam perhentiannya: Keyakinannya. Ia berpikir, bukan hanya keyakinan untuk meraih mimpi dan cita-cita yang dimilikinya, namun juga keyakinan akan zat penguasa alam dan kehidupan yang telah memberikannya anugerah hidup dan segala perkara yang ada di dunia, bukan tentang keyakinan yang sempat hilang oleh ragu ketika Ia menjalankan kehidupannya, namun juga keyakinan akan takdir hidup setelah mati, bahwa akan ada hari pertimbangan atas segala budi pekerti, di mana semua insan dan raga menjadi saksi. Matanya memandang jauh, hatinya membisu terpaku, pikirannya menyimak dengan penuh syahdu, raga dan mulutnya terkunci penuh kaku. Jiwa dan tubuhnya merendah diri, seolah memberi isyarat untuk membasuh kering matanya dengan tetesan air murninya. Akal menyuruhnya kembali berpikir, bahwa apa yang seharusnya Ia jalankan adalah karena keyakinannya. Bahwa apa yang Ia pilih seharusnya apa yang diajarkan keyakinannya. Keyakinan diri yang direstui Tuhannya. Keinginan diri yang diridhoi Tuhannya. Keyakinan diri yang ditunjukan Tuhannya. Ada yang berkata bahwa hati itu dipilih, namun Ia memiliki pandangan bahwa hidup di dunia itu untuk memilih; memilih yang baik dari yang buruk, yang putih dari yang hitam, yang lurus dari yang belok, dan menerima konsekuensi dari apa yang telah dipilih. Ia pun tersadar, dan memutuskan, kembali melanjutkan perjalanan dengan memilih jalan yang Ia yakini untuk dipilih: memilih jalan yang bermuara pada Tuhan pencipta dan penguasa alam semesta; memilih jalan yang  mengantarkannya pada Tuhan pemilik segala kehidupan dan kematian; memilih jalan untuk bertemu Allah SWT.

December 16, 2012 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: