Ardiansyah Mahamel

Kalau kamu bukan anak raja, dan bukan anak ulama besar, maka menulislah (imam ghazali).

Karakter Orang Berdasarkan Golongan Darah-Versi Komik

rymind

Penasaran Bagaimana Karakteristik kam u berdasarkan Golongan Darah, Intip Yukkk

1

Sekilas Tentang Gambaran Umum Setiap Golongan Darah

Golongan Darah A

M1m4m7m10Golongan Darah Om13m16

m19

Golongan Darah AB

m21m24

1. Mengenai Ketepan Waktu Janjian Ketemuan

2

2. Cara Mengungkapkan Pikiran

3

3. Cara Berpikir  dan perilaku saat ada janji Temu Jam 15.00

4 - Copy

4. Tempat Favorit dalam sebuah Ruangan

5 - Copy

5. Cara Pandang terhadap sebuah tugas/masalah

8

6. saat Menggosipkan Orang lain

6

7. Ketaatan terhadap Aturan/Perintah/larangan

12

8. Saat menyetir….

10

9. Cara Belajar/konsentrasi…..

7

10. Cara Berpikir …..

9

11.  Tingkat Penghargaan Tiap Golongan Darah terhadap nilai2 Hidup

penghargaan

12. Tujuan Hidup mereka

18

13 Hubungan antar Golongan Darah

17

14. Jika Hati/ Pikiran mereka Di ibaratkan Rumah, maka

12121121212121313131141414131313113115151515. Kemampuan Menghadapi Tekanan/situasi berbahaya

facingdangeroussituation 1facingdangeroussituation 2facingdangeroussituation 3facingdangeroussituation 4facingdangeroussituation 516. Saat Bareng Dikantin

1261299_20130218050829

17. Kemampuan Mengendalikan emosi/marah

1261299_20130218050901

18. Yang Tak Disukai

1261299_20130218051010

19. Keburukan Tiap Golongan darah

1261299_20130218051423

well, itulah Karakteristik Tiap golongan darah…. Jadi Seberapa Akurat Gambaran tadi dengan dirimu? 🙂

View original post

Advertisements

April 27, 2014 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Masjid Negara (National Mosque Malaysia)

100_1729

front side of national mosque

 

IMG_20140412_235132

piece of me on one of side of Masjid Negara Malaysia

1

Inside of National Mosque

Masjid Negara (National Mosque Malaysia)

me, hehe

IMG_20140412_235255

My brothers, Faisal and Tsabit from Indonesia

IMG_20140412_235638

my brother, Faisal 🙂

IMG_20140413_101827

Jeviar from Malang, Jawa Timur, Indonesia

18

The beautiful pool, hehe

19

with Abdul Hakim from California, USA

April 12, 2014 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Bahwa Hidup Adalah Tentang Memilih

“Suatu ketika ada seorang pemuda berhenti dari langkah yang sedang diayunkannya. Sejenak ia berpikir, ke mana Ia akan memilih di antara persimpangan jalan yang ada di hadapannya. Ia melihat ada banyak sekali pilihan jalan berpetunjuk dan tak berpetunjuk. Satu yang Ia tahu hanya, semua jalan tersebut akan mengantarkannya pada satu tujuan yang bermuara di ujung jalan tersebut. Namun Ia terdiam…

…Matanya memandang jauh, hatinya membisu terpaku, pikirannya menyimak penuh syahdu, raga dan mulutnya terkunci dengan penuh kaku. Jiwa dan tubuhnya merendah, seolah memberi isyarat untuk membasuh kering matanya dengan tetesan air murninya. Akal menyuruhnya kembali berpikir. Ia pun tersadar, dan memutuskan, kembali melanjutkan perjalanan dengan memilih jalan yang Ia yakini untuk dipilih: memilih jalan yang bermuara pada Tuhan pencipta dan penguasa alam semesta; memilih jalan yang mengantarkannya pada Tuhan pemilik segala kehidupan dan kematian; memilih jalan untuk bertemu Allah SWT”.

Teman-teman masih ingat potongan tulisan di atas? Semoga masih. Atau, yang bertanya itu tulisan apa berarti belum baca semua tulisan di blog saya. Semoga setelah ini langsung scroll down the mouse to look for that writing, hehe.

Entah kenapa, sudah beberapa minggu ini saya merasa seperti mengalami kelemahan. Lemah dalam mempertahankan perkara-perkara yang biasa saya lakukan. Atau mudahnya, saya merasa ke-istiqomah-an saya dalam suatu amalan sedikit goyang. Well, maaf kalau tulisan saya terlalu bias atau berbahasa kiasan yang pada akhirnya jadi agak sulit dimaknai. Satu yang pasti, saya membutuhkan suatu energi yang dapat mengembalikan kekuatan saya dalam melangkah, dalam bekerja, dan dalam beribadah. Karena sepertinya, kelemahan-kelemahan itu saya rasakan akibat dari dosa-dosa yang saya buat. Ya. dosa-dosa yang saya buat. Lagi dan lagi saya berkata kepada diri saya sendiri, kenapa rasanya sulit sekali untuk terhindar dari perbuatan dosa. Namun, ini lah manusia; seperti tulisan saya sebelumnya, “Manusia Penuh Dosa”.

Dan ketika saya membaca kembali tulisan saya yang judulnya “Sebuah Perjalanan” yang saya kutip di atas, saya kembali termenung. Ya Allah, ini lah jalan hidup yang sudah saya pilih. Bahwa Engkau telah menjawab segala doa-doa saya di waktu itu. Bahwa Engkau yang memberikan jalan hidup ini kepada saya. Bahwa Engkau lah yang memberi kekuatan kepada saya pada saat itu untuk berani memilih dan mengambil suatu keputusan dalam hidup saya. Lalu kenapa sekarang saya merasa lemah? Sungguh tak pantas rasanya diri ini apabila tidak mensyukuri nikmat yang telah Engkau beri dalam hidup saya.

Teman-teman, kalau saya boleh sedikit berbagi, saat itu, hidup saya dihadapkan dalam situasi “ingin berubah”. Saya sendiri bingung kenapa. Ada apa. Bagaimana. Sedang apa dan di mana. Apakah saya sudah kemasukan jin. Absolutely not that way. Yang saya sadari adalah saya ingin berubah dari kehidupan saya yang sebelumnya. Saya ingin menjadi lebih baik. That’s it. Saya yakin bahwa keinginan untuk berubah ini pun datangnya dari suatu zat yang Maha Besar di luar kekuatan dan kendali saya: Allah SWT. Dia yang telah memberikan suatu pemikiran-pemikiran yang membuka pikiran, mata hati, dan mata batin saya; yang pada akhirnya saya pun harus memilih, lebih tepatnya, menentukan jalan hidup saya.

Dan teman-teman, buat yang sudah kenal saya sebelumnya, seperti ini lah kehidupan saya sekarang. Tapi satu hal yang pasti dan ingin saya sampaikan adalah di mana pun kita berada, di kondisi apa pun itu, di lingkungan apa pun itu; semua tergantung dari apa yang ada di hati dan apa yang kita perbuat. Di lingkungan saya sekarang ini, bukan berarti saya terlepas dari dosa dan kesalahan, untuk sebagian mungkin iya. Namun, saya sadar bahwa ujian akan selalu ada. Selama saya hidup di dunia, di mana pun saya berada, di belahan bumi mana pun, ujian akan selalu ada. Ujian tersebut bukan hanya berbentuk masalah-masalah yang datang, tetapi ujian juga adalah ketika keimanan dan keyakinan saya diuji; yaitu ketika syaitan membisikkan keraguan di telinga dan hati saya apakah saya dapat mencapai harapan dan tujuan saya belajar di sini, atau pun ketika syaitan menggoda saya untuk kembali melakukan suatu dosa. Itu lah ujian yang dapat memberikan nikmat kepada yang diuji, atau dapat menyengsarakan. Loh, bagaimana memberi nikmat dan sengsara? Ya, ketika kita memilih untuk menuruti bisikan syaitan tersebut, mungkin dapat memberi kenikmatan “sesaat” kepada kita, tetapi buah dari perkara tersebut akan kita petik kelak di akhirat yang pada akhirnya menyengsarakan kita selama-lamanya. Bagaimana kita dapat selamat dari ujian itu adalah tergantung bagaimana hati dan keimanan kita. Ya, ini lah hidup. Hidup adalah tempat ujian. Hidup adalah tempat memilih. Hanya Allah lah tempat kita berlindung dari segala ujian dan meminta kekuatan untuk keselamatan.

Akhirnya, saya hanya dapat berserah diri kepada Allah dan memohon ampun atas dosa-dosa yang telah saya perbuat. Dan saya memohon agar diberi kekuatan dan kesabaran untuk dapat istiqomah terus berada di jalan-Nya. Supaya saya dapat diberi kekuatan untuk dapat mencapai harapan-harapan saya. Semoga Allah selalu memberikan tuntunan dan perlindungannya kepada kita semua.

“…But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not”. (QS Al Baqarah:216)

Image

Ini nama madrasah tempat saya belajar menghafalkan Al Quran 🙂

Image

Ini bangunan asramanya, di lantai bawah untuk kegiatan belajar, di lantai atas untuk ruang tidur.

Image

Image

Image

Image

Ini surau (masjid) nya

Image

Pelajar (santri) dari berbagai negara seperti Philippines, Kazakhstan. Kyrgystan, Pakistan, Cambodia, Vietnam, Malaysia, China, sampai California semuanya ada di sini.

Image

sahabat-sahabat dari california dan malaysia

Image

Antri buat ambil makan 😀

 

April 12, 2014 Posted by | Uncategorized | 2 Comments

Manusia Penuh Dosa

IMG_20140412_203253Setiap manusia pasti melakukan dosa dan kesalahan; kecil besar, banyak atau sedikit, sengaja atau pun tidak. Menjadi lumrah setiap manusia melakukannya. Rasulullah bersabda:

“Setiap anak Adam pernah melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang-orang yang bertaubat.” (HR. Ibnu Majah, no.4251)

Tetapi sejauh mana manusia mau kembali bertaubat itulah yang menjadi persoalan. Syaitan tidak akan pernah berputus asa dari menghasut manusia. Kerana tugas mereka adalah menggoda manusia supaya melakukan maksiat dan terjun bersama-sama mereka ke dalam azab api neraka. Malah mereka sendiri berazam dan bertekad mau menyesatkan seluruh umat manusia hingga tiba hari kiamat. Hanya manusia yang sadar dan beriman saja yang akan kembali menginsafi diri setelah melakukan kesalahan dan dosa. Karena mereka sadar betul bahwa syaitan adlah musuh utama yang nyata bagi mereka.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (Surah Al-Baqarah: 208)

Manusia beriman mempunyai ciri-ciri yang jelas apabila melakukan dosa. Yaitu mereka yang beriman apabila melakukan dosa, akan segera bertaubat dan segera menginsafi diri. Waktu malam dijadikan waktu terbaik untuk mengingati kembali kesalahan yang dilakukan. Solat taubat dan doa meminta keampunan Allah menjadi rutin. Air mata yang dikurniakan kepadanya dicurahkan sebanyak mungkin semata-mata untuk meraih ridha dan keampunan dari-Nya.

Pada siang hari, rezeki yang sedikit digunakan untuk bersedekah. Masa yang lapang digunakan untuk membantu mereka yang memerlukan. Inilah ciri-ciri yang tidak terdapat pada manusia biasa. Tidak terdapat pada kebanyakan manusia. Hanya manusia terpilih yang mampu melakukan semua ini. Kerana pada pandangan mereka, dosa kecil itu besar. Dan dosa besar itu sangat besar.

Manusia penuh dengan dosa. Setiap manusia pasti pernah melakukan dosa dan pahala. Diantara dosa dan pahala, manusia sukar membuat perbandingan dan perhitungan. Mana satu yang dilakukan sedikit dan mana satu yang banyak. Karena itulah alangkah baiknya untuk kita bermuhasabah dosa terlebih dahulu dibanding bermuhasabah pahala. Karena hanya dengan muhasabah dosa, hati kita akan insaf sehingga merasakan bahwa timbangan dosa kita adalah lebih berat dari timbangan pahala yang dilakukan. Kemudian timbul perasaan bahwa sebenarnya kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengurangkan atau meringankan timbangan dosa selama ini. 

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. an-Nur: 31)

 

April 9, 2014 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Kita Hidup Untuk Apa?

bersyukur-kepada-allah

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS Al Baqarah:152)

Assalamualaikum…

Alhamdulillahirabbil alamin, puji dan syukur kepada Allah SWT yang sampai detik ini masih memberikan karunia hidup kepada kita semua sehingga kita masih dapat melihat besarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita di dunia ini. Ketika kita masih dapat membuka mata untuk bangun dari tidur di pagi hari, rasa syukur bertambah ketika kita dapat bangun di tengah lelapnya tidur di sepertiga malam yang gelap dan meneteskan air mata merenungkan kembali kehidupan yang telah dijalani sejak lahir hingga hari ini dan menyadari bahwa betapa kotornya diri ini akan dosa-dosa yang pernah diperbuat. Bersyukur ketika menyadari bahwa nikmat sehat masih berada dalam diri sehingga aktivitas dan kegiatan dapat dijalani tanpa rasa sulit dan beban di dalam tubuh dan di dalam hati, bersyukur menyadari akan nikmat sehat yang Allah berikan sehingga kita dapat beribadah dengan penuh kenikmatan yang tak akan pernah dapat tergantikan ketika tubuh ini lemah tak berdaya karena sakit. Bersyukur bahwa mata ini masih dapat melihat, telinga masih dapat mendengar, hidung masih dapat bernapas, mulut masih dapat berbicara, tangan masih dapat menggenggam, kaki masih dapat berjalan, lagi dan terus lagi betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita manusia sehingga Allah berfirman:

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah (yang dilimpahkan-Nya kepadamu), niscaya kamu tidak akan dapat menghitungnya, sungguh Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nahl:18)

Bayangkan apabila tiba-tiba mata ini tidak dapat melihat, telinga tidak dapat mendengar, dan mulut tidak dapat berbicara. Lebih jelasnya lagi coba bayangkan apabila nikmat buang air kecil atau buang air besar Allah cabut dari kita. Maka barulah kita sadar akan nikmat yang telah Allah berikan selama ini. Sekali lagi, coba bayangkan ketika tiba-tiba kita mati. Apakah kita sudah siap untuk dihisab di hari kiamat nanti? Kongkritnya, apakah kita sudah siap untuk mati? Karena pada akhirnya semua yang bernyawa akan mati. Karena mati adalah hal yang pasti, lebih pasti dari terbitnya matahari di esok hari. Orang-orang yang kita sayangi di dalam hidup akan mati dan kita sendiri pun juga akan mati. Dari sekian banyak kita saksikan kerabat atau orang yang dikubur karena mati, kita pasti sadar betul bahwa akan tiba giliran kita untuk dikubur juga nanti. Allah SWT berfirman dalam Quran Surat Al Imran ayat 185:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Kita umat Islam pasti tahu betul bahwa ada siksa kubur ketika kita di kubur nanti, kita juga pasti tahu akan adanya hari akhir, hari penghisaban, hari pembalasan, serta neraka dan surga; ya karena ini merupakan salah satu dari rukun iman yang menjadi dasar keimanan kita sebagai umat Islam. Hal-hal yang saya sebut di atas tadi adalah perkara-perkara yang pasti akan  terjadi. Lalu bagaimana kita harus menyiapkan kematian kita? Sebelum kita mencari jawaban bagaimana kita menyiapkan kematian kita, kita harus paham betul untuk apa kita diciptakan. Apa  tujuan kita hidup di dunia ini. Bukanlah tujuan yang sesuai dengan kehendak hati kita, tapi tujuan yang dikehendaki oleh saat Allah SWT; Tuhan yang menciptakan kita. Dia yang telah memberikan kehidupan kepada kita. Maka atas apa-apa yang kita lakukan di muka bumi haruslah sesuai dengan keinginan Sang Pencipta. Rutinitas hidup yang kita jalani terkadang menjebak kita yang membuat kita berfikir bahwa hidup ini ibarat putaran atau siklus tiada henti. Seakan-akan hidup ini hanya satu kesamaan dengan yang lain. Maksudnya ketika lahir, kemudian kita sekolah, lalu kerja, terus menikah, punya anak, tua, lalu kemudian mati. Setidaknya seperti itu lah yang kita jalani. Sulit sekali bagi kita jika hanya mengandalkan logika untuk mencari jawaban apa sebenarnya inti kehidupan kita. Namun jawaban yang tepat dapat kita temukan jika manusia menyadari siapa yang menciptakan kehidupan dunia dan seisinya.

“Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariat:56)

Secara gamblang telah dijelaskan Allah Swt bahwa tujuan Dia menghidupkan kita di dunia ini adalah untuk menyembah alias beribadah kepada Nya. Bukan sekedar untuk hidup kemudian menghabiskan jatah umur lalu mati.

Lebih jauh Allah Swt mengingatkan pula dalam Surat Al-Mukminun ayat 115:

“Apakah kau (manusia) menyangka bahwa Aku ciptakan kamu dengan main-main dan (kau kira) kamu tidak akan dikembalikan kepada Ku?”

Dari dua ayat di atas, dengan mudah kita bisa mendapat pencerahan bahwa eksistensi kita di dunia adalah untuk melaksanakan ibadah/menyembah kepada Allah Swt. Tentu saja semua yang berlaku bagi kita selama ini bukan sesuatu yang tidak ada artinya. Sekecil apapun perbuatan itu. Melainkan semua terjadi atas kehendak yang telah Dia tetapkan dalam hidup kita. Allah telah memberikan tuntunan sisanya kitalah yang menentukan pilihan. Namun yang perlu kembali kita sadari, kekuatan dalam memilih jalan hidup itu pun datangnya dari Allah, bukan semata-mata dari kekuatan kita. Kadang kita sering mendengar orang berkata, “Ini kan hidup gue, jadi suka-suka gue dong mau buat apa“. Hmm, semoga kita bukan termasuk orang yang pernah atau sering berpikir seperti itu.

Maka, ketika kita paham tujuan kita diciptakan dan hidup di dunia ini, maka, insya Allah kita dapat mengaplikasikan rasa syukur kita kepada Allah. Bersyukur bukan hanya sekedar melalui kata-kata, melainkan secara garis besar wujud nyata dari dari syukur adalah dengan menggunakan hati, lidah, dan seluruh anggota badan. Bahwa Allah adalah Maha Pencipta segala yang ada di dunia ini sehingganya satu buah bola mata pun tidak akan pernah dapat manusia ciptakan walau dengan tekhnologi tingkat apa pun. Bahwa Allah adalah Maha Memiliki segala yang ada di dunia ini sehingga segala sesuatu yang ada akan kembali kepada-Nya. Allah lah yang memiliki diri kita, bukan kita sendiri. Badan dan jiwa ini hanya pinjaman. Selayaknya barang pinjaman, suatu saat sang empunya atau tuannya akan meminta kembali barang yang dipinjamkan, atau tak perlu tunggu diminta, yang meminjamlah yang sepatutnya mengembalikan barang pinjaman dengan berterimakasih. Lalu, apakah layak barang pinjaman ini kita gunakan dengan seenaknya ketika yang punya sudah mengingatkan “Eh, barang gue jangan rusak ya“, “Barang gue jangan hilang ya“, “Jangan ini ya… Jangan itu ya“. Maka ketika kita melanggar peringatan-peringatan itu, pasti yang punya barang akan marah.

Teman-teman, (dan juga saya berbicara kepada diri saya sendiri), begitulah ibaratnya kita di dunia ini. Ketika Allah telah menberikan tuntunan-Nya kepada kita umat manusia melalui kitab yang paling mulia (Al Quran) dan pengaplikasiannya melalui sunnah-sunnah Rasulullah SAW (Hadits), maka berpegang kepada dua hal itu bukan hanya menyelamatkan hidup kita di dunia, tapi juga menyiapkan bekal mati dan kehidupan di akhirat nanti. Bukan buku-buku komik yang dulu atau sampai sekarang masih kita baca, bukan buku-buku pelajaran yang selama ini kita pelajari di bangku sekolah atau kuliah. Ya betul. Saya harus berkata begini karena buku-buku itu mungkin akan menjamin hidup kita atau memberi kepuasan kepada kita di dunia, tapi belum tentu menjamin hidup kita di akhirat. Sadarlah bahwa hidup ini bukan cuma di dunia ini saja. Jika ada orang yang bilang “hidup ini cuma satu kali“, memang betul, hidup di muka bumi ini hanya satu kali dan bahkan sangat-sangat singkat sehingga kata-kata “nikmatilah hidup” terlanjur menempel dalam otak kita dan membuat kita terkadang bertindak sesuka hati. Tapi sesungguhnya, ada lagi kehidupan lain yang akan kita jalani yang lebih kekal abadi selama-lama-lama-lamanya sampai Allah kehendaki. Ya, kehidupan di akhirat nanti.

Jadi, mari kita selalu banyak-banyak berterima kasih kepada Allah atas segala sesuatu yang telah Allah beri, ridho atas segala ketetapan yang terjadi dan ujian yang kita alami, karena kita hidup di dunia ini tidak akan pernah lepas dari ujian. Berbagai ujian dan persoalan hidup akan selalu kita alami. Allah berfirman dalam Al Quran Surat Al-Ankabut ayat 2-3:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

“Sesungguhnya Aku akan menguji setiap hamba-hamba-Ku untuk mengetahui siapa di antara mereka yang paling beriman kepada-Ku.” Jadi, ketika masalah atau ujian datang kepada kita, insya Allah kita ada kekuatan untuk ikhlas sepenuh hati serta bertawakal dan yakin bahwa pasti Allah akan menyelesaikannya.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS (Al-‘Asyr:5-8)

Banyak-banyak berdoa baik dalam ibadah atau pun di luar ibadah, dan memohon ampun atas dosa-dosa yang selama ini telah diperbuat. Karena sesungguhnya pertama kali masalah atau ujian itu datang tak lain adalah karena perbuatan atau amalan kita dan kedua memang karena Allah ingin sekedar menguji kita. Namun sepatutnya, menyadari diri penuh dengan perbuatan dosa adalah lebih baik daripada merasa diri sudah cukup akan keimanan dan ketakwaan. Maka, mari kita perbanyak evaluasi, introspeksi, dan menimbang diri apakah amalan baik kita sudah lebih banyak dari amalan buruk kita. Apakah selama ini kita sudah hidup sesuai dengan perintah Allah. Apakah segala larangan-larangan-Nya telah kita jauhi. Lebih jauh lagi apakah kehidupan kita sehari-hari sudah sesuai seperti yang dicontokan oleh Rasulullah SAW, karena dalam diri beliau ada suri tauladan yang apabila kita ikuti dan teladani, maka kita bukan hanya akan berjaya hidup di dunia ini, tapi juga di kehidupan akhirat nanti. Ya, kehidupan akhirat. Yang mana merupakan ladang atau tempat pembalasan atas amalan-amalan perbuatan daripada kita hidup di muka bumi ini. Tempat di mana tidak ada lagi kesusahan-kesusahan yang akan kita alami seperti yang pernah kita alami di dunia, tempat di mana kita tak perlu bekerja untuk mendapatkan harta, tempat di mana kita tak perlu mencari uang untuk dapat membeli makanan, minuman, membeli pakaian, rumah, mobil, semuanya. Tempat di mana kita tak perlu lagi bersusah payah membuat atau mencari sesuatu karena hanya dengan menginginkan sesuatu sedetik saja, maka semua akan disediakan oleh Allah SWT untuk kita. Tempat di mana tak ada si miskin dan si kaya. Tempat di mana tidak ada perburuhan, perbudakan, penyiksaan, dan segala kejahatan yang pernah ada di muka bumi. Tempat di mana tidak ada tua, karena semua dari setiap kita akan menjadi muda. Tempat di mana mereka yang dulu di dunia berpisah karena agama akan dikumpulkan menjadi satu dengan penuh bahagia. Tempat di mana akan disediakan banyak bidadari-bidadari perawan untuk para pria. Tempat di mana istana-istana yang besarnya melebihi matahari akan terhampar luas disediakan untuk manusia, bejana-bejana dari emas akan disediakan yang ukuran disesuaikan dengan kehendak kita, pelayan-pelayan surga akan bertaburan seperti butiran mutiara yang berkilauan, tak akan terdengar oleh kita perkara-perkara atau ucapan-ucapan yang sia-sia karena semua hanya akan berdzikir dan berbicara tentang kebesaran Allah SWT, dan nikmat yang paling besar adalah, melihat wajah Allah SWT.

“Fabiayyi Aalaaa irobbikumaa Tukadzdzibaan ; Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman)

Semoga muhasabah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin ya rabbal alamin.

April 5, 2014 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

PNPM Mandiri Pariwisata, Teluk Kiluan Kabupaten Tanggamus, Lampung, Indonesia

Assalamualaikum!

Sudah lama juga nih saya gak posting cerita tentang kegiatan pariwisata, setelah terakhir yang lalu saya share tentang keindahan obyek wisata Tanjung Setia dan Pulau Pisang di Kabupaten Lampung Barat. Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi pengalaman saat berada di Teluk Kiluan, Kabupaten Tanggamus, masih di area provinsi Lampung, tempat saya bertugas sebagai muli mekhanai  provinsi Lampung (bujang gadis.red). hehe.

Merupakan kedua kalinya saya mengunjungi obyek wisata ini setelah yang pertama pada bulan Mei 2011 lalu bersama dengan teman-teman yang sama seperti saat di Lampung Barat, yaitu topan, febi, kirana, ditambah ameria, erwin, dan gery saat itu. Nah, untuk yang kedua ini, tepatnya pada bulan September 2012, saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung kembali ke Teluk Kiluan bersama dengan Ibu Ulida dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Lampung beserta tim dari Dinas Pariwisata Kabupaten Tanggamus.

ImageAgenda utama kami adalah untuk koordinasi dan penyuluhan program pemerintah PNPM Pariwisata 2012 di 2 desa yang ada di 1 kecamatan di kabupaten Tanggamus, yaitu Pekon Kiluan Negeri dan Pekon Penyandingan di Kecamatan Kelumbayan.  Kami berangkat dari Bandar Lampung sekitar pukul 16.00 pada hari Sabtu dan tiba di lokasi sekitar pukul 19.00. Kedatangan kami langsung disambut oleh bapak Camat, fasilitator pariwisata daerah Tanggamus, dan Ketua Komunitas Cinta Lingkungan yaitu Pak Anton, Mas  Maimun, dan Mas Rico.  Berlokasi di rumah Mas Maimun selaku fasilitator pariwisata kabupaten Tanggamus, masyarakat perwakilan setiap kepala keluarga di kecamatan Kelumbayan ternyata sudah cukup ramai yang menghadiri penyuluhan pada malam itu.  Fasilitator sendiri bertugas membantu pemerintah daerah dalam menggerakan masyarakat mendukung program kepariwisataan melalui pengoptimalan partisipasi masyarakat menyediakan kebutuhan wisatawan berupa tempat singgah (homestay) dan lain sebagainya. PNPM Mandiri Pariwisata sendiri merupakan program pemerintah pusat yang dimandatkan kepada dinas kebudayaan dan pariwisata di setiap daerah yang khusus berfokus pada pengembangan pariwisata melalui program-program berupa bantuan langsung baik berupa fisik dan non fisik dalam rangka memajukan pariwisata unggulan yang ada di setiap daerah. Harapannya adalah, bukan hanya pariwisata yang akan terangkat melalui kunjungan para wisatawan, namun perekonomian masyarakat sekitar juga akan terangkat melalui usaha-usaha yang dilakukan yang menunjang kegiatan pariwisata.

ImageSingkat cerita, sosialisasi berjalan cukup agresif dan benar-benar bersinergis antar pihak-pihak pemerintah dan masyarakat setempat, terlihat dari antusiasnya para masyarakat dalam mengungkapkan harapan dan kendala selama di lapangan, serta kesimpulan-kesimpulan yang diputuskan pada akhir acara. Akhirnya acara sosialisasi berakhir sekitar pukul 9 malam. Dan kami pun melanjutkan makan malam mengingat perut sudah sangat lapar. Hehe. Alhamdulillah, makanan yang disediakan malam itu sungguh luar biasa menggugah selera, haha. Beberapa ekor Lobster merah segar dan ikan bakar yang disajikan dengan lalapan dan sambal terasi benar-benar menyempurnakan kenikmatan pada makan malam itu. Bukan ekornya saja ya, tapi utuh sebadan-badan Lobster! Haha. Kami semua pun makan malam dengan lahap. Setelah makan malam selesai, sekitar pukul 00.00, kami beristirahat untuk menyiapkan agenda untuk esok hari yaitu sosialisasi di desa yang kedua, yaitu pekon penyandingan.

Image

ImageImagePagi hari pukul 5 kami semua bangun untuk menunaikan shalat subuh, dan sesegera bersiap-siap untuk berangkat sekitar puku 6 pagi. Kenapa pagi sekali? Ya, karena kami tidak ingin melewatkan kesempatan untuk melihat icon atau ciri khas dari pada pariwisata Kabupaten Tanggamus khususnya Obyek Wisata Teluk Kiluan, yaitu Lumba-Lumba! Wah…sungguh sangat excited pada saat itu, tidak sabar untuk segera menaiki perahu ketek dan menuju tengah laut yang masih satu kesatuan dari Samudera Hindia ini. Ternyata pagi itu cukup banyak wisatawan yang sedang berkunjung ke Teluk Kiluan (secara weekend), sehingga saat kami tiba di tengah laut sudah banyak perahu-perahu yang juga sedang berburu atraksi dari lumba-lumba yang kadang kemunculannya ke permukaan tidak dapat diprediksi. Haha. Kami pun berputar-putar di laut selama kurang lebih 1 hingga 1,5 jam. Sampai akhirnya kami menemukan segerombolan kecil lumba-lumba yang terbang rendah lompat ke permukaan. Sungguh menyenangkan. Haha.

ImageSekitar pukul 11 kami mulai melakukan sosialisasi kedua di desa atau pekon Penyandingan, dan seperti sosialisasi sebelumnya, masyarakat yang berkumpul siang itu juga cukup antusias dan komunikasi pun terarah antar kedua belah pihak. Sosialisasi berakhir sekitar pukul 13.30 dan kami pun lanjut makan siang, acara yang sudah ditunggu-tunggu oleh kami. Menu kuliner siang itu memang tidak ada lobster, namun tetap menggiurkan melalui sajian yang disediakan oleh masyarakat setempat, yaitu masih dengan khas ikan bakar yang disajikan cukup banyak, sambal terasi, dan yang khas yaitu sayur perispati alias sayur santan yang pembuatannya cukup disiram air panas mendidih sehingga terasa ringan dan tidak terlalu berat rasa santannya. Layaknya seperti kuah sayur asem, sayur perispati tidak kalah enak dan mantap ketika disantap bersama-sama dengan ikan bakar, sambal terasi, dan nasi putih panas. Maknyos! Hehehe.

Image

Image

Akhirnya, perjalanan kami pun selesai pukul 15.00, dan kami segera bersiap-siap untuk kembali ke Bandar Lampung setelah waktu Ashar. Sekitar pukul 16.00 kami mengakhiri kegiatan kami di Kabupaten Tanggamus dan berangkat menuju Bandar Lampung. Saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata atas kesempatan yang telah diberikan untuk mengikuti agenda pariwisata ini. Karena bukan hanya kegiatan bersenang-senang yang saya dapatkan, namun juga bersentuhan langsung dengan masyarakat daerah melalui program nasional pengembangan masyarakat yang memberikan pembelajaran yang banyak bagi saya. Bagaimana seorang pemimpin atau para jajaran yang ada di level yang lebih tinggi harus benar-benar melakukan peninjauan langsung ke masyarakat untuk melakukan kontrol, koordinasi, dan komunikasi menemukan titik temu dan melihat langsung keadaan yang ada di masyarakat untuk kebaikan dan kemajuan program pemerintah yang juga berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat.

Semoga PNPM Mandiri Pariwisata dapat terus istiqomah memajukan pariwisata yang ada di daerah untuk meningkatkan perekonomian sehingga tercipta kesejahteraan masyarakat yang merata, adil, dan makmur sesuai dengan harapan bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pancasila sila 1-5 sebagai landasan bermasyarakat bangsa Indonesia. Amin ya robbal alamin.

Image

March 9, 2013 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Islam; jalan menuju keselamatan

tumblr_m2qxa4ztAo1rnj1ino1_500_largeSelayaknya manusia, saya memiliki banyak impian dan cita-cita dalam hidup ini. Berbagai upaya saya lakukan untuk dapat mencapai impian dan cita-cita saya tersebut. Hingga pada suatu waktu saya diajarkan dengan sebuah mekanisme dahsyat tentang hakikat penciptaan dan tugas manusia yang terekam dalam kitab suci Al Quran Surat Al-Insan ayat 2: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan) karena itu kami jadikan ia mendengar dan melihat; Surat Adz-Dzaariyat 56: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku; Surat Al-Baqarah 28: Mengapa kamu kafir kepada Allah padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan.  Petikan ayat tersebut seperti menyambar dan memberhentikan langkah saya untuk mengevaluasi dan mengoreksi apa yang telah saya lakukan selama ini, dan kebenaran dari impian dan cita-cita saya dalam hidup ini.

Hidup adalah pilihan. Apa yang kita lihat pada diri kita hari ini, adalah hasil dari pilihan-pilihan yang dibuat pada masa lalu. Keadaan hidup kita di masa depan ditentukan oleh apa yang kita pilih saat ini. Rasulullah SAW adalah seorang manusia yang dijamin Allah masuk surga, dan Rasulullah SAW memasuki surga karena pilihan-pilihan yang beliau buat semasa hidupnya. Dengan kata lain, apabila kita mengikuti setiap pilihan yang dibuat Rasulullah SAW, maka dapat dipastikan kita akan memasuki surga bersama dengan beliau. Semua itu adalah karena beliau berpegang teguh kepada Islam, sebuah konsep hidup yang diturunkan Allah untuk kemaslahatan, keselamatan, dan kesejahteraan manusia di muka bumi ini.

Islam, mengajarkan bagaimana aturan dalam hidup. Islam mengajarkan hakikat dari mana manusia berasal, untuk apa manusia diciptakan, dan ke mana manusia setelah berakhir tugasnya (mati). Islam menyadarkan saya untuk tidak hanya mengejar cita-cita dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal kehidupan setelah mati. Islam menyadarkan saya bahwa dunia hanyalah tempat singgah untuk menuju kehidupan kekal yang abadi, kehidupan di akhirat nanti. Islam menyadarkan saya bahwa segala yang saya lakukan di dunia harus berdasarkan ridho Ilahi. Semua itu demi mendapatkan janji-Nya, menempati surga yang diciptakan untuk umat-Nya yang berada di jalan-Nya. Jalan lurus yang bagi mereka yang diberi petunjuk, bukan mereka yang mengingkari.

Saya yakin, bahwa Islam dapat memberikan keselamatan, bukan hanya untuk saya, tapi untuk seluruh umat. Bukan karena kehendak-Nya yang melahirkan saya sebagai Muslim, tetapi bagaimana menjadi Mukmin sejati yang melaksanakan tugasnya di dunia ini. Insya Allah, dengan Islam, kehidupan saya lebih bermakna dan terarah melalui aktivitas atau pekerjaan yang saya sempurnakan dengan iman, ilmu, dan amal seperti Rasulullah SAW, sebaik-baik suri tauladan yang pernah ada, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari melalui pendidikan, pekerjaan, atau pun jihad fi sabilillah sebagai bentuk sujud, syukur, dan tunduk kepada Allah SWT, menuju kemenangan atas hidup di dunia dan akhirat nanti. Amin ya robbal alamin.

March 6, 2013 Posted by | Uncategorized | , , , , | 1 Comment

Ekonomi Syariah : Karena yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.

Islamic-Finance7-300x200Dunia saat ini dihadapkan oleh beragam masalah dalam bidang perekonomian. Berbagai krisis menyerang bukan hanya pada negara berkembang, namun juga pada negara-negara maju pemimpin kekuatan ekonomi dunia yaitu Amerika Serikat dan Uni Eropa. Lebih jauh, sejarah ekonomi mencatat bahwa krisis yang terjadi tersebut ternyata melanda hampir di semua negara yang menerapkan sistem kapitalisme dan liberalisme. Tahun 1907 krisis perbankan internasional dimulai di New York; 1920 terjadi depresi ekonomi di Jepang; 1929 terjadi The Great Crash dan Great Depression di New York; 1931 Austria mengalami krisis perbankan; 1944 Prancis dan Hungaria mengalami hyperinflasi akibat meliberalkan perekonomiannya; 1945 hyperinflasi Jerman akibat perang dunia kedua; 1974 krisis pasar Euro; 1978-1980 deep recession di negara-negara industri akibat boikot OPEC; 1980 krisis dunia ketiga dan krisis hutang di Polandia; 1982 dan 1994 krisis keuangan di Mexico; 1997 krisis keuangan di Asia Tenggara (Thailand, Malaysia, dan Indonesia); 1998-1999 krisis keuangan di Rusia, Brazil, dan Argentina; terakhir, 2007 dan 2011, krisis keuangan di  Amerika Serikat dan Uni Eropa hingga saat ini. Catatan sejarah tersebut menggoreskan perhatian saya untuk bertanya apa yang salah dari kondisi tersebut; apa yang menjadi akar dari permasalahan ini; apa yang salah dengan sistem ekonomi kapitalisme dan liberalisme.

Menurut pakar ekonomi Islam, penyebab utama krisis ekonomi dunia saat ini adalah kepincangan sektor moneter dan sektor riil yang dalam Islam dikategorikan sebagai Riba. Sektor keuangan berkembang cepat melepaskan dan meninggalkan sektor riil. Hal ini terlihat nyata dalam bisnis pasar uang yang penuh dengan ribawi melalui maraknya bisnis spekulasi berupa pasar modal, pasar valas, dan properti. Transaksi tersebut mencapai lebih dari 95% dibandingkan transaksi sektor riil berupa perdagangan barang dan jasa yang hanya sekitar 5%.  Sistem kredit atau sistem hutang pada sistem kapitalis juga memerangkap perekonomian dunia semakin dalam. Mekanisme bunga menggurita bersama sistem hutang yang kemudian membuat sistem perekonomian harus menderita ketidakseimbangan kronis; yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.

Lalu apa solusi dari masalah ekonomi ini? Kita umat Islam telah mengetahui jawabannya, yaitu kembali kepada sistem ekonomi Syariah. Islam sangat mencela transaksi derifatif ribawi dan menghalalkan transaksi riil. Hal ini dengan tegas difirmankan Allah dalam surah Al-Baqarah 275: Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Tantangan umat Islam dewasa ini adalah bagaimana kita dapat menunjukkan keagungan dan keampuhan ekonomi syariah tidak hanya bagi kaum muslim, namun juga bagi kaum non muslim di seluruh dunia. Islam mewariskan sistem perekonomian yang tepat, adil, dan manusiawi untuk menciptakan kemaslahatan dan kesejahteraan hidup tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Di zaman Nabi Muhammad SAW jarang sekali terjadi resesi. Di zaman Umar bin Khattab (khalifah kedua) dan Utsman (khalifah ketiga), APBN mengalami surplus. Di zaman pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz, tidak dijumpai lagi satu pun orang miskin.

Pada akhirnya, saya memiliki keyakinan bahwa sistem keuangan dan perbankan Islam mempunyai keunggulan yang lebih baik dibandingkan dengan sistem keuangan barat yang berasaskan riba. Tidak perlu ragu, karena hal ini sesuai dengan janji Allah bahwa akan kembali masa kebangkitan Islam yang akan memimpin dunia hingga pada akhir menjelang hari kiamat nanti, seperti pada kejayaan Islam dulu saat kepemimpinan Rasulullah SAW, Abbasiyyah (The Islamic Golden Age 750-1517 M), hingga Utsmaniyyah (Suleyman The Magnificent 1517 M). Kita adalah manusia yang hidup di akhir zaman, dan kehancuran sistem keuangan barat yang sedang terjadi sekarang yang kemudian akan digantikan dengan sistem syariah Islam adalah satu tanda yang telah disebutkan dalam Islam bahwa peradaban barat akan runtuh setelah masa jayanya dan peradaban Islam akan bangkit setelah masa terpuruknya. Islam akan kembali memberikan kesejahteraan bagi manusia dan rahmat kepada semesta alam. Karena yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.

March 3, 2013 Posted by | Uncategorized | , , , , | Leave a comment

Wisata Krui, Lampung Barat, Indonesia

Cerita pengalaman di Lampung Barat ini sebenarnya sudah pernah saya posting melalui akun twitter saya (@ardianmahamel) tepatnya pada tanggal 23 Mei 2012 lalu. Tapi saya pikir alangkah baik bila saya menyatukannya kembali menjadi satu kisah yang tertulis di blog pribadi saya ini, mengingat komentar salah seorang teman yang mengingatkan saya bahwa apabila ingin menulis cerita panjang lebih baik buat di blog dari pada di twitter, bacanya repot! Hahaha. Baiklah. So, here it is, i wrote this special writing to all of you, kisah perjalanan singkat saya 18-20 Mei 2012 bersama ke-4 sahabat di Obyek Wisata Krui Lampung Barat, Provinsi Lampung, Indonesia.

Berawal dari rencana yang sudah sejak lama ingin direalisasikan, saya, @topan_a, @kiranaCynthia, dan @FebiFebrian berkesempatan untuk melakukan perjalanan wisata ke Pantai Tanjung Setia di provinsi Lampung, ditemani oleh @Wdmoekchin yang juga rekan saya dari ajang pemilihan Muli Mekhanai Lampung (semacam pemilihan bujang gadis daerah). Sedikit perkenalan tentang pantai Tanjung Setia, pantai ini terletak di Desa Tanjung Setia, Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung, berjarak sekitar 52 km dari Liwa (ibu kota kabupaten Lampung Barat) ke arah Krui atau sejauh 273 km dari Kota Bandar Lampung.

Banyak kegiatan wisata yang bisa dilakukan seperti berenang, diving, surfing, piknik, mengumpulkan kerang, berperahu, atau bersepeda menyelusuri bibir pantai. Pantai ini menghadap langsung ke Samudera Hindia dan selama bulan tertentu yaitu April dan Oktober, ketinggian ombaknya bisa mencapai  2-4 meter dengan panjang sekitar 200 m, tak heran ketika di sana akan banyak kita jumpai wisatawan mancanegara alias bule dari berbagai negara yang datang liburan ke pantai ini. Kalau kata orang-orang di sini, Tanjung Setia itu Bali-nya Lampung, ombaknya berskala internasional dan dianggap surga bagi pada surfing lover. Walaupun saya dan teman-teman gak ada yang bisa berselancar, hahaha, but we were totaly excited! Berbagai fasilitas dan cottage pun disediakan khusus baik untuk para surfer maupun pengunjung biasa.

Jumat 18 Mei 2012 pukul 8.00 pagi WIB, saya dan teman-teman berkumpul di Stasiun Raja Basa Bandar Lampung pukul 7.00 dan segera membeli tiket Bus Krui Putra, yaitu bus khusus yang mengangkut penumpang jurusan Bandar Lampung-Krui seharga  Rp 32.500 per penumpang. Setelah melalui jalan berkelok mandaki gunung lewati lembah dengan pemandangan yang luar biasa indah, gak kerasa sudah 7 jam perjalanan kami lewati di bus dan akhirnya kami pun tiba pukul 15.00 sore. Di sana, kami singgah sejenak di kediaman paman Wd untuk rehat berganti pakaian dan segera bergegas ke pantai Tanjung Setia menggunakan 2 motor pinjaman paman. Dengan jarak tak begitu jauh dari kediaman, kami pun tiba di lokasi pantai dan memasuki gerbang Tanjung Setia yang ada di pintu masuk.

Kami pun menemukan jawaban atas penantian kami terutama saya selama ini. Tak heran mengapa banyak orang terhipnotis keindahannya. Di pantai ini, dapat disaksikan gulungan ombak nan indah yang panjang dan tidak terputus yang memberi sensasi luar biasa bagi siapa pun yang melihat. Cottege dan fasilitas surfing yang tersedia juga membuat Tanjung Setia memiliki kredibilitas internasional yang menjadi kebanggan provinsi Lampung sehingga wajar apabila daerah tujuan wisata ini menjadi salah satu Kawasan Wisata Unggulan (KWU) dari program pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung.

Setelah 2 jam menikmati pantai Tanjung setia, karena hari sudah magrib, kami memutuskan untuk kembali ke rumah paman dan segera berangkat ke penginapan yang akan kami singgahi yang terletak di kota Krui dengan menumpang mobil milik seorang warga (teman paman) yang berbaik hati memberikan tumpangan kepada kami. 30 menit kemudian, akhirnya kami tiba di hotel Janitra, penginapan sederhana di kota Krui. Malam itu kami memutuskan untuk mencari makan di luar. Saat berjalan kaki dalam perjalanan mencari makan, kami mampir ke pantai Labuhan Jukung, sebuah tempat yang banyak dikatakan keramat oleh warga setempat. Sebenarnya kami tidak sengaja ingin ke sana, awal niat kami adalah makan bakso ikan yang lokasinya tepat di depan gerbang pantai itu. Tapi ternyata, sang pedagang bakso ikan tutup alias “gak dagang kalau hari jumat”, kata warga yang kebetulan ada di lokasi. Akhirnya karena sudah kepalang tanggung, kami pun penasaran dan coba masuk ke pantai Labuhan Jukung melalui gerbang besar yang ada di pintu masuk.

Seperti memasuki dunia lain. itulah perasaan yang saya rasa saat masuk pantai itu, mungkin karena malam hari, dan tidak ada penerangan cahaya sama sekali. Kami belum berkomentar dan masih bersenda gurau sembari berjalan pelan-pelan menuju bibir pantai. Lalu kami duduk di bebatuan yang ada di pinggiran pantai dan mencoba untuk memandangi ombak laut dan menikmati angin malam dengan hanya menggunakan lampu senter dari handphone dan mengandalkan cahaya bulan malam itu. Cukup romantis. Tapi kesan sepi dan gelap lebih mendominasi saat itu. Seperti tidak ada manusia satu pun di sana. Tepat di lokasi kami duduk, terdapat tanda peringatan “Dilarang Berenang dan Bermain di Pinggir Pantai”. Saya sempat terheran dalam hati, bertanya tentang keberadaan tanda peringatan itu. Jarang saya temui di lokasi pantai sebuah obyek wisata, karena pasti pantainya untuk dinikmati sekedar berenang atau bermain pasir. Belum ada 5 menit kami duduk di situ, saya memutuskan untuk segera beranjak. “Udah yuk”, kata saya pada teman-teman yang lain. Saat itu, logika dan perasaan seperti tidak beraturan. Tanpa bertanya pikiran dan perasaan masing-masing, kami langsung bangun dan pergi, dan melanjutkan mencari makan malam karena perut sudah cukup lapar.

Singkat cerita, kami kembali ke penginapan sekitar pukul 21.30 malam, berjalan kaki selama 20 menit dari lokasi makan ke penginapan. Tiba di kamar, kami beristirahat sambil menonton tv dan menikmati cemilan. Kebiasaan “ngobrol malam” pun kami lakukan. Saat itu, kami mendengarkan cerita Wd tentang masyarakat Lampung Barat, khususnya cerita-c erita dari daerah kelahirannya ini. Oya, saya belum bilang, kalau Wd asli berasal dari Krui, Lampung Barat. Keluarganya lahir dan besar di sini, kemudian mereka hijrah ke Bandar Lampung dan mengadu nasib di sana. Merantau kalau kata istilah adat orang Padang. Hehe. Dia bercerita bahwa pantai Labuhan Jukung yang tadi kami datangi memang punya banyak kisah dan kejadian. Dia cerita bahwa pada tahun 1987, pernah ada anggota TNI meninggal tenggelam, dan tahun 90-an juga pernah ada mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang tenggelam dan hanyut di sana, serta cerita lain seperti kisah Goa Matu yang ada di daerah utara Krui yang tidak bisa saya share di sini, silahkan googling sendiri dengan keyword nama goa tesebut, hehe. Obrolan malam ini berhasil menegangkan suasana yang semula hangat menjadi dingin, terlebih kondisi penginapan tersebut sangat mendukung aura misterius semakin muncul, banyak lukisan foto manusia yang sepertinya dari zaman kolonial belanda terpampang di dinding ruang tengah penginapan itu. Haha, benar-benar edan! Singkat cerita, malam itu kami tutup dengan shalat Isha berjamaah memohon keselamatan dan perlindungan Allah SWT. Sekitar pukul 00.00 malam kami baru tidur dan beristirahat.

Sabtu, 19 Mei 2012, kami bangun pukul 5.00 pagi dan bersiap-siap menuju destinasi lain yang akan kami singgahi, yaitu Pulau Pisang. This is one of the best place in Krui! Check out pukul 6.30 pagi kami berangkat menuju dermaga menggunakan ojek dan tiba sekitar pukul 7.00 dan menggunakan perahu kapal kecil menyebrang sekitar 20 menit dari dermaga yang terletak di bagian utara kota Krui tersebut. Pasir putih dan air laut biru nan jernih menyambut kami ketika tiba di Pulau Pisang. Sungguh luar biasa! Di Pulau itu, kami mampir sebentar ke kediaman “dongah” (kakak lelaki nomor dua dalam bahasa Lampung), yaitu kerabat keluarga Wd yang ada di sana, untuk menitip beberapa barang bawaan.

Dari situ kami langsung menelusuri hutan kecil yang ada di pulau melalui jalan setapak yang bisa dijadikan jogging/bike track, benar-benar pulau yang potensial, seandainya fasilitas di sini lebih lengkap, pasti akan lebih ramai pengunjungnya. Fasilitas di Pulau Pisang memang tidak selengkap Tanjung Setia, malah tidak ada cottege, mungkin masyarakat masih ingin menjaga kelestarian dari pulaunya. That’s why kondisi pantai di sini masih cukup bersih jauh dari polusi. Selain itu di depan rumah warga dapat kita jumpai tanaman cengkeh yang dijemur yang konon katanya dahulu pada zaman belanda pernah ada pabrik cengkeh terbesar di Lampung di pulau ini. Sungguh, kesan history di pulau ini sangat tinggi. Di batu Guri, lokasi yang kata penduduk setempat pernah ditemukan binatang gurita, terdapat bangkai kapal tanker berusia puluhan tahun yang sudah mengerat dan kecoklatan namun berdiri tegap di pinggir bebatuan pantai. Sekali lagi, bila ingin didalami, seolah kita akan menemukan seribu satu kisah sejarah yang ada di Pulau Pisang ini. Mengapa dinamakan Pisang pun, kami masih bertanya-tanya, padahal notabene di sini lebih banyak ditemui pohon kelapa dari pada pohon pisang. J

Setengah hari di pulau ini kami habiskan dengan menikmati keindahan dan keeksotisan pantai yang sungguh luar biasa. Dari mulai berjalan di jalan setapaknya, menikmati pasir putih pantai, menyelam melihat batu karang, atau sekedar foto dengan background gulungan ombak yang menawan. Sungguh Tuhan Maha Besar pencipta segala yang ada di alam semesta ini.

Singkat cerita, pukul  13.00 kami kembali ke kediaman dongah, mandi bilas dan bersih-bersih, lalu makan siang yang disiapkan berupa ikan-ikan segar yang diolah dan dimasak menjadi beragam masakan. Alhamdulillah. J

Selesai makan kami segera bersiap-siap untuk pulang kembali menyebrang menggunakan perahu yang pagi tadi kami gunakan. Namun ternyata kami terlambat naik perahu yang baru saja berangkat dengan penumpang yang pagi tadi bersama kami: kami ditinggal! Haha.

Akhirnya, kami terpaksa menunggu hingga pukul 16.00 sore untuk dijemput kembali oleh perahu yang sama. Akhirnya, kami tiba di dermaga awal sekitar pukul 16.40 sore, dan tanpa sengaja menumpang kendaraan tossa milih warga yang kebetulan lewat tepat saat kami baru merapat. Kendaraan tossa itu sejenis gerobak beratap yang dibawa oleh motor besar mirip kereta kencana. Atas pertolongan warga yang membantu memberhentikan pemilik tossa tersebut, akhirnya kami pun naik, mengingat hari sudah petang dan tidak ada kendaraan umum yang akan lewat lagi. Dalam perjalanan kembali ke arah selatan menuju kediaman paman Wd di daerah Bumi Agung, sempat diguyur oleh hujan yang lumayan deras. Sungguh, pengalaman yang lengkap akan rasa syukur dan petualangan.

Kami pun tiba di rumah paman sekitar pukul 19.00, yang disambut dengan listrik padam. Sebenarnya, listrik padam ini bukan sekali terjadi, tapi sejak awal kami menginap di hotel janitra, kami sudah mengalami mati lampu sebanyak dua kali. Kata paman, ini sudah biasa terjadi di Krui, karena pasokan listrik yang terbatas. Kami beristirahat duduk sejenak di ruang tamu mengobrol dalam kegelapan sembari menunggu makan malam yang sekali lagi disiapkan bibi Wd. Lagi-lagi, tak hentinya kami mengucap syukur Alhamdulillah.

“Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman)

Kami menutup malam dengan mengistirahatkan raga dan melepas lelah seharian menikmati keindahan karya sang pencipta yang tiada tara.

Minggu , 20 Mei 2012, setelah sarapan, kami bersiap-siap kembali ke Bandar Lampung menaiki bus yang sama yaitu Krui Putra. Tepat pukul 10.00 kami pun pamit dengan paman dan bibi. Tiba di Bandar Lampung sekitar pukul 18.00, kami kembali ke rumah masing-masing.

Akhirnya, itulah perjalanan singkat penuh makna dan pengalaman saya dan sahabat selama 3 hari di Krui, Lampung Barat. Terima kasih terhaturkan kepada kerabat, paman, bibi, dongah, dan seluruh warga yang ada di Tanjung Setia, Krui, dan Pulau Pisang. Terima kasih pula saya pribadi sampaikan kepada sahabat-sahabat yang setia menemani setiap perjalanan, Topan, Kirana, febi, dan juga Wd yang telah mendampingi dan berusaha memberikan yang terbaik buat pengalaman wisata kali ini. Sungguh, petualangan yang sangat berkesan. Awesome! Terima kasih kepada Allah SWT atas perlindungan dan pertolongan yang telah diberikan sehingga perjalanan ini terasa sangat mudah dalam setiap kesulitan yang dirasa. Hanya pada-Mu hamba bersuci, berserah diri, dan memohon keselamatan atas segala hal yang terjadi.

Perjalanan ini mungkin bukan satu-satunya yang pernah terjadi, namun atas segala pengalaman dan pembelajaran yang saya dapatkan, rasa syukur selalu terpanjatkan. Dan atas segala rasa marah, takut, tangis, tawa dan bahagia, serta kebersamaan dan kesenangan yang tercipta, saya ingin berbagi pengalaman ini kepada seluruh teman-teman yang membaca tulisan saya, menceritakan apa yang saya rasa, dan apa yang tertinggal.

IMG_0125

IMG_0204

IMG_0206

IMG_0240

IMG_0234

IMG_0256

IMG_0386

December 17, 2012 Posted by | Uncategorized | , , , | Leave a comment

Gratitude

Sitting on the chair, lay down on the bed, in my room. The sun is bright burning the earth and gives nutrition for the plants, fulfill what human needs in this life. I was waiting for a thing that never came, I know will never come. I ensured myself that it was the best that I have to admit. Dream and hope; fight and struggle; pain and sadness; joy and happiness were always accompanying and teach me of life on which always be like a circle. It runs even when we are stuck on the trap, walking on the track.  I do realize everything happens for a reason, somebody comes for a mission, and someone leaves for a lesson. Meeting and farewell will not be gone; bear and die could not be denied. I know that I will not always on the top; I will not always be loved. But, I have God who will always loves me back when I know I love him so bad. The one who will always guide me when I need direction, the one who will always be by my side in every single of my slide. I thank him for blessing me passing every moment in this life, he told me to keep struggling in every difficuIty, though he told me that to wondering if a thing comes too much easy. Thank you for the strength that I know it comes and happens only from the owner and the eternal power of this life. I could not do another unless walk the talk and trust the walk. I believe every great thing comes from him, and every bad thing comes from myself. I could not ask anything unless lift me to the top of reflection on my mind and drag me to the best position on my faith. Please guide me to always remember what I hold and give me power and confidence to stand on what I believe. Give me more lessons and experiences to learn then I will know more to be better. For all prologue and epilogue I have framed, for all chapters I have captured, gratitude will always be mentioned. For the ones who ever loved me, I learn how to be sincere; for the ones who ever hurt me, I learn how to be strong; for the ones who still love me, I learn how to appreciate. Thank you for the greatest experiences during these years and whole my life ages. This is the best gift that I ever got, to live a life given by God, and knowing Allah SWT as my power, Muhammad SAW as my role model, and Islam as my perfection.

 

 

December 16, 2012 Posted by | Uncategorized | Leave a comment